Rebutan Peluang Industri Halal

Halal. Dulu kata ini begitu menakutkan. Jangankan di negara-negara non-Muslim, di negara dengan penduduk mayoritas Islam saja masih tak peduli dengan segala yang berbau halal.

Namun, saat ini istilah halal sudah mendunia. Yang lucu, di Indonesia saja, ada media yang dulu takut mencantumkan kata bismillah, alhamdulillah, kata salam Islami, dan halal. Namun, begitu peluang dari industri halal menjanjikan, mereka pun membuka peluang berita-berita Islami.

Saat ini trennya makin mendunia. Industri keuangan Islam atau juga dikenal dengan keuangan syariah sudah tumbuh secara substansial. Di Asia pertumbuhannya selama dua dekade terakhir menjanjikan.

Populasi Muslim di berbagai negara Asia, terutama di Asia Tenggara, juga meningkat. Pertumbuhan penduduk Muslim yang cepat dan meningkatnya standar hidup ternyata telah meningkatkan popularitas keuangan Islam sebagai alternatif, selain mekanisme pembiayaan konvensional yang sudah lebih dulu berada.

Investor dari Timur Tengah dan Asia tampak semakin gesit mencari peluang berinvestasi dalam produk yang sejalan dengan keyakinan agama mereka. Pemerintah dan otoritas keuangan di beberapa negara Asia telah memainkan peran aktif dalam mempromosikan pengembangan pasar keuangan Islam sejalan dengan upaya meningkatkan investasi dan mencapai pendanaan berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengetuk likuiditas besar dari negara-negara penghasil minyak dan komoditas.

Mengapa bisa demikian? Ternyata karakter etis dan stabilitas keuangan produk keuangan Islam dapat meningkatkan daya tarik bagi investor dan pelaku usaha. Riset ADB Institute telah membuktikan bahwa produk keuangan Islam memiliki fokus etis, terutama tidak mau menanamkan modal dan berbisnis dalam industri yang tak sesuai dengan fitrah mereka. Industri ini pun dengan tegas menolak alkohol dan perjudian. Profil risiko industri halal juga menarik bagi investor yang sadar dengan perilaku etis.

Akbar Komijani (pengajar ekonomi Universitas Teheran) dan Farhad Taghizadeh-Hesary (ekonom Fakultas Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Waseda, Tokyo) sudah membuktikan kenyataan tersebut dari hasil riset mereka. Keduanya membuktikan, dalam pengembalian perbankan syariah pada investasi didasarkan pada kegiatan ekonomi dan atau aset yang mendasari struktur hubungan kontraktual antara pihak yang bertransaksi. Cara ini mungkin dilakukan karena menggunakan sifat berbasis aset dan aspek pembagian risiko keuangan Islam untuk integrasi yang lebih besar dengan ekonomi riil dan demi meningkatkan keseimbangan ekonomi secara keseluruhan antara sektor riil dan keuangan.

Sejak awal 2000-an, pasar modal Islam global juga telah tumbuh secara signifikan di seluruh yurisdiksi, dengan banyak entitas lintas sektor meningkatkan modal dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Pasar modal Islam global kini menjadi segmen multisektor yang mencakup instrumen keuangan holistik, termasuk ekuitas Sukuk Islami, dana Islam, dan produk terstruktur Islami lainnya, seperti real estate and investment trusts (REITs) dan exchange traded funds (ETFs).

Yang menarik juga, sektor ekuitas Islam telah memantapkan diri dalam bursa global dan yurisdiksi utama dan penyedia indeks keuangan utama dunia, seperti Dow Jones, Standard & Poor’s, dan FTSE. Semuanya memiliki daftar ekuitas yang mematuhi syariah sehingga memungkinkan ekuitas dan market keuangan Islam berkembang. Sebagai contoh, indeks Pasar Islam Dow Jones mencakup kapitalisasi pasar lebih dari 10 triliun dolar AS di lebih dari 40 negara. Perkembangan ini telah meningkatkan daya tarik pasar keuangan Islam sebagai kelas aset untuk investasi.

Dengan potensi yang besar tersebut, wajar saja industri halal makin banyak dilirik. Tidak hanya negara dengan penduduk Muslim yang besar. Tidak hanya negara Islam yang mengincarnya. Negara-negara non-Muslim juga makin serius menggarapnya. *